Mita, anak kecil berusia 15 tahun yang harus merasakan kepahitan dunia ini. Ketika usianya bahkan belum menginjak 12 tahun dengan penuh kesedihan dia ditinggalkan ibunya untuk selamannya. Jadilah dia hanya tinggal berdua dengan ayahnya. Setahun keadaan awal tanpa kehadipan permaisuri tercantik di keluarganya mengakibatkan mita dan ayahnya kesulitan. Banyak sekali hal-hal tak terduga. Dan mita juga ayahnya saling sepakat bahwa tanpa ibu hidup ini sulit.
Walaupun banyak hal baru yang mita juga ayahnya lewati, namun kebahagiaan tetap ada diantara mereka berdua. Memasuki tahun kedua tanpa seorang sosok ibu menjadikan mita maupun ayahnya terbiasa. Mereka berdua saling melengkapi untuk mengisi kekosongan. Di usia yang baru menginjak 13 tahun, mita sudah pandai memasak, membersihkan rumah, dan hal-hal yang biasanya dikerjakan perempuan dewasa. Dua tahun tanpa kehadiran ibunya membuat mita tumbuh mandiri. Sudah tidak ada lagi kesedihan saat mengingat ibunya yang tiada. Dia hanya perlu menjaga dengan baik satu-satunya orang tua yang dimilikinya.
Mita, si gadis kecil yang menjadi piatu saat usianya belum memasuki usia 12 tahun. Kini dia menjadi perempuan cantik dengan teman-teman yang baik disisinya. Kebahagiaan itu memang selalu diiringi dengan kesedihan. Mita bahagia di berkahi dengan sahabat-sahabat yang baik. Namun, ayahnya kini menikah lagi. Mita tak pernah melarangnya. Bukankah mita sudah berjanji untuk membahagiakan ayahnya? Inilah mungkin salah satu caranya.
Mita berupaya keras menampik bahwa ayahnya akan meninggalkannya. Mita juga berupaya untuk menjauhkan fikiran buruk mengenai ibu tirinya. Namun, kenyataan ini terbalik dengan yang ingin disangkalnya. Ayahnya yang ingin dia banggakan pergi. Ibu tirinya yang dia anggap baik nyatanya tak adil. Luka kedua yang sangat membebani mita. Baik ibu kandungnya maupun ayahnya telah pergi. Ibunya telah disisi yang Maha Kuasa, sedangkan ayahnya pergi dengan istri barunya. Hanya tinggallah mita sendirian di rumah. Rumah yang selalu membawa kebahagiaan. Kini rumah itu membawa kesedihan, luka, dan tangisan untuk mita.
Dalam benak mita saat ini, ayahnya telah membohonginya. Ayahnya tak pantas disebut ayah. Ayahnya bahkan begitu egois, lalu salahlah mita jika diapun juga egois?
Dan untuk ibunya. Mita berharap ibunya mendengarkannya. Mita tak pernah menyalahkan takdir, tapi kenapa ibunya tidak mau berjuang lebih lagi? Kenapa ibunya dengan teganya meninggalkan mita? Apakah ibunya tidak terluka melihat gadisnya kini tak berdaya ditinggal ayahnya?
Emosi. Sakit. Bahkan mita juga takut. Dia takut lepas kontrol. Dia takut menjadi perempuan yang tidak patuh pada agama. Ketakutan mita sempat memunculkan benak untuk pergi dari sisi ayahnya ataupun pergi dari dunia ini. Namun, mita tak sanggup untuk melakukan itu. Betapa malangnya nasib mita. Perempuan manis berusia 15 tahun dengan beban berat di pundaknnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar