Translate

Selasa, 16 Agustus 2016

HARI KEMERDEKAN RI KE 71

Selamat hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke - 71 !!!
MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA!
17 Agustus 1945 - 17 Agustus 2016.
Jaga persatuan dam kesatuan bangsa(!)
Kebangsaanku. Negeriku. Tanah airku. Indonesia kita!!
Jayalah negaraku!
Terbanglah garudaku!
Indonesia Raya...

Senin, 08 Agustus 2016

Cerpen 'Mita, Gadis Yang Sedih'

Mita, anak kecil berusia 15 tahun yang harus merasakan kepahitan dunia ini. Ketika usianya bahkan belum menginjak 12 tahun dengan penuh kesedihan dia ditinggalkan ibunya untuk selamannya. Jadilah dia hanya tinggal berdua dengan ayahnya. Setahun keadaan awal tanpa kehadipan permaisuri tercantik di keluarganya mengakibatkan mita dan ayahnya kesulitan. Banyak sekali hal-hal tak terduga. Dan mita juga ayahnya saling sepakat bahwa tanpa ibu hidup ini sulit.

Walaupun banyak hal baru yang mita juga ayahnya lewati, namun kebahagiaan tetap ada diantara mereka berdua. Memasuki tahun kedua tanpa seorang sosok ibu menjadikan mita maupun ayahnya terbiasa. Mereka berdua saling melengkapi untuk mengisi kekosongan. Di usia yang baru menginjak 13 tahun, mita sudah pandai memasak, membersihkan rumah, dan hal-hal yang biasanya dikerjakan perempuan dewasa. Dua tahun tanpa kehadiran ibunya membuat mita tumbuh mandiri. Sudah tidak ada lagi kesedihan saat mengingat ibunya yang tiada. Dia hanya perlu menjaga dengan baik satu-satunya orang tua yang dimilikinya.

Mita, si gadis kecil yang menjadi piatu saat usianya belum memasuki usia 12 tahun. Kini dia menjadi perempuan cantik dengan teman-teman yang baik disisinya. Kebahagiaan itu memang selalu diiringi dengan kesedihan. Mita bahagia di berkahi dengan sahabat-sahabat yang baik. Namun, ayahnya kini menikah lagi. Mita tak pernah melarangnya. Bukankah mita sudah berjanji untuk membahagiakan ayahnya? Inilah mungkin salah satu caranya.

Mita berupaya keras menampik bahwa ayahnya akan meninggalkannya. Mita juga berupaya untuk menjauhkan fikiran buruk mengenai ibu tirinya. Namun, kenyataan ini terbalik dengan yang ingin disangkalnya. Ayahnya yang ingin dia banggakan pergi. Ibu tirinya yang dia anggap baik nyatanya tak adil. Luka kedua yang sangat membebani mita. Baik ibu kandungnya maupun ayahnya telah pergi. Ibunya telah disisi yang Maha Kuasa, sedangkan ayahnya pergi dengan istri barunya. Hanya tinggallah mita sendirian di rumah. Rumah yang selalu membawa kebahagiaan. Kini rumah itu membawa kesedihan, luka, dan tangisan untuk mita.

Dalam benak mita saat ini, ayahnya telah membohonginya. Ayahnya tak pantas disebut ayah. Ayahnya bahkan begitu egois, lalu salahlah mita jika diapun juga egois?
Dan untuk ibunya. Mita berharap ibunya mendengarkannya. Mita tak pernah menyalahkan takdir, tapi kenapa ibunya tidak mau berjuang lebih lagi? Kenapa ibunya dengan teganya meninggalkan mita? Apakah ibunya tidak terluka melihat gadisnya kini tak berdaya ditinggal ayahnya?

Emosi. Sakit. Bahkan mita juga takut. Dia takut lepas kontrol. Dia takut menjadi perempuan yang tidak patuh pada agama. Ketakutan mita sempat memunculkan benak untuk pergi dari sisi ayahnya ataupun pergi dari dunia ini. Namun, mita tak sanggup untuk melakukan itu. Betapa malangnya nasib mita. Perempuan manis berusia 15 tahun dengan beban berat di pundaknnya.

Jumat, 29 Juli 2016

Cerpen 'Anak TKW dan Penjudi'

Seperti biasanya, aku menyiapkan kopi untuk kakekku pagi ini. Si kakek sedang asik dengan koran yang dibacanya. Aku meletakkan secangkir kopi di meja. Kaca mata baca bertengger di hidung bangirnya. Dan dengan ekspresi serius si kakek membaca korannya. Aku akan bergegas ke sekolah, sebelum itu kebiasaanku adalah mengecek isi tasku.

"Baca apa kek pagi ini?" aku duduk di kursi kosong tidak jauh dari kakek.
"Ini, berita banyaknya anak remaja yang suka minum-minuman sampai melakukan kekerasan" jawab si kakek. Pandangannya tak turut lepas dari koran.
"Ohh.. Kemarin ada sidak di sekolah, ada 15 anak laki-laki kena razia bawa rokok kek" ceritaku mengingat sidak tiba-tiba kemarin.
"Lihat itu, masih SMP udah bawa rokok nanti SMA Narkoba! Mau jadi apa generasi muda ini, kakek gak habis pikir! Kamu jangan gitu loh anto" kakekku melipat korannya dan memandangku garang.
"Iya kek, aku juga mikirin masa depanku kok" aku mengibas-ibaskan tanganku.
"Jangan main sama mereka, pergaulan yang gak baik" si kakek menasehati.
"Tapi kek, salah satu dari lima belas orang itu dari kecil main bareng sama aku kek. Aku juga gak tau kalau dia perokok. Selama ini dia teman yang baik, ramah, bahkan setahuku temannya cuma aku saja" ceritaku sambi menerawang sosok yang kuceritakan.
"Temen? Siapa? Udah ah jangan dideketin, ntar kamu ikutan lagi!! Kakek gamau ya kalau kamu sampai kayak gitu!!" kakekku menyeruput kopinya.
"Budi kek, anak gang sebelah yang ibunya jadi TKW di Arab saudi. Dia cuma tinggal sama bapaknya aja, trus bapaknya jarang di rumah juga, emm suka judi kek" jawabku nyinyir, betapa miris kehidupan budi.
"Anak yang kalau kesini sopan banget itu? Ya ampun anto, dari penampilannya kakek kira dia anak baik-baik" kakekku memijit pelipisnya.
"Anto juga pikir budi anak yang baik kek, selama berteman sama anto , dia gapernah ngomong kasar ataupun ngajakin hal yang buruk. Kemarin aja aku kira budi di jebak sama anak-anak badung itu tapi nyatanya budi ngakuin rokok milik dia" aku menyenderkan punggungku ke kursi.
"Pagi-pagi kok pada pasang wajah frustasi gini" ibuku dari dalam rumah meletakkan sepiring gorengan dan sebotol minum yang disisipkan di saku tasku.
"Budi bu.. Ketahuan bawa rokok" ceritaku.
"Ibu sudah tahu, ibu pernah gak sengaja ketemu dia beli rokok di toko bu aminah. Ibu kira buat bapaknya eh gataunya pas ibu mau jalan pulanh ibu liat dia di balkon rumahnya lagi ngerokok" ibu merapikan anak rambutku yang sedikit berantakan.
"Kok ibu gak ngelarang anto main sama dia?" aku mengernyitkan dahi. Bahkan kakekku saja menolak aku berteman tapi kenapa ibuku santai-santai saja.
"Apa dia ngajak kamu merokok juga?" tanya ibu.
"Enggak bu, aku aja gatau kalo budi ngerokok" aku menjawabnya sambil memakai sepatuku.
"Nah, ibu tau budi bukan anak yang jahat. Dia cuma punya kamu, dia anak rumahan sebenernya cuma kurang ada perhatian aja dari bapak sama ibunya jadi ya begini deh dia bisa semaunya tanpa tau itu buruk atau baik. Dia pasti nyontoh ayahnya yang penjudi dan perokok. Kamu sebagai temennya kalau bisa ajak dia berubah, sering ajakin melakukan aktifitas yang positif. Ibu juga gak keberatan dia main di rumah"

Aku mendengarkan ucapan ibuku yang sangat panjang itu. Tidak ada yang salah dari ucapannya. Aku seharusnya memang merubah budi, bukan malah menjauhinya. Pasti bukan keinginan budi juga menjadi seperti ini. Kurangnya perhatian dari orang yang bertanggung jawab atas dirinyalah penyebab ini semua.

"Anto..." panggil seseorang di luar pagar.
"Oiii budi!! Tunggu bentar. Kek, pamit dulu ya.. Bu, pamit, budi udah jemput. Anto janji bu, budi sahabat anto bakal berubah" aku mengulurkan tanganku mencium tangan kakek dan ibuku.
"Ayo budi, udah setengah 7 nih"
"Mari kek, bibi, kita berangkat dulu"
"Hati-hati" saut ibu.

Rabu, 27 Juli 2016

Cerpen 'Dr. Psikolog 2'

Seorang pria berjas putih berjalan santai di rumah sakit jiwa. Dia adalah dokter yang menangani pasien dengan berbagai macam gangguan. Dia adalah sosok dokter yang banyak diperbincangkan saat ini. Semua studi yang ditinggalkannya selama dua tahun tak menghambat kelulusannya di tahun ke lima. Dia lulus dengan predikat terbaik. Otak encer yang dua tahun serasa lumpuh sepertinya telah kembali. Berbagai macam metode baru dan peralatan modern dikembangkan pria ini dengan sukses untuk menyembuhkan pasiennya.
"Selamat pagi dokter reno" seorang perempuan menyapa dokter tampan ini.
"Oh, selamat pagi bunga. Kau mau konsultasi?" reno tersenyum pada pasiennya.
"Iya dokter, aku sudah sangat jauh lebih baik sekarang" puji bunga pada dirinya sendiri.
"Iya, kau sudah melakukannya dengan baik" reno mengelus surai hitam rambut bunga. 'Kau sangat mirip dengan seseorang yang sudah menyembuhkanku' batin reno.

Flashback
"Apa anda tau siapa anda?" tanya seorang dokter pada pasiennya.
"Apa anda gila? Aku reno. Mana mungkin aku tidak tau" reno mengerutkan keningnya marah.
"Dan dinda..." dokter itu diam beberapa saat menunggu reaksi reno. "Kau tidak mencarinya?" dokter tersebut membelalakkan matanya. Bagaimana bisa, pasien yang baru tadi pagi masih meraung-raung menginginkan dindanya kini tak bergeming saat mendengar nama dinda.
"Aku akan datang setelah ini" jawab reno tersenyum ke arah pintu. Ada seorang perawat masuk. Dia adalah perawat yang selalu reno katakan sebagai dinda.
"Dia? Dia dinda?" tanya dokter tersebut sedikit harap-harap cemas.
"Bagian mana yang mirip dinda dok? Jelas-jelas namanya tertulis pada name tag 'Laras' bukan?" reno menatap pria berjas putih itu dengan tatapan tidak suka.
"Kau sudah sembuh? Oh my god!! Reno selamat. Aku tidak tau apa yang telah terjadi tetapi sarafmu kembali kurasa. Kita akan melakukan pengecekan dan juga terapi besok untuk memastikan ini" dokter tersebut tersenyum lega. Pasiennya kembali normal. Pasien yang selama dua tahun hanya bertanya 'dimana dinda?' 'apa dinda sudah sembuh?' 'dinda kenapa tidak menjengukku?' saat ini telah sadar dari halusinasinya.

Setelah semua pengecekan terhadap reno, dokter mengijinkan pulang. Reno sendiri melanjutkan kuliahnya yang tertunda selama dua tahun. Dia menjadi pria yang cerdas lagi. Dia mengikuti organisasi yang sering mengadakan sebuah event. Dan kali ini reno di tunjuk sebagai ketua event kali ini.
"Oke, balik dulu ya guys" pamit reno pada teman-temannya yang masih asik mengobrol.
Reno berjalan ke arah parkiran. Tepat saat reno akan menyalakan mesin motornya reno melihat seorang perempuan berjalan sendirian.
"Bukankah dia perempuan yang kemarin juga lewat sini? Mau apa malam-malam begini dia ke area kelas perkuliahan?" reno tidak jadi menyalakan mesin motornya. Dia mengikuti perempuan itu.
Reno kembali menyipitkan matanya. Memfokuskan pada seseorang yang sedari tadi diikuti. Reno tidak mengenalnya, tapi tiga hari terakhir dia selalu melewati parkiran saat reno akan mengambil motor dan itu cukup membuatnya penasaran.
Mata reno sedikit melebar saat melihat perempuan itu terus berjalan ke arah kelas psikologi. Banyak sekali pertanyaan di benaknya. Untuk apa dia kesini? Sendirian? Kenapa dia cukup berani? Tapi semua pertanyaan pada pikiran reno diabaikannya. Reno kembali menatap punggung perempuan itu.

Reno Pov.
Seseorang yang sedari tadi kuikuti menghentikan langkahnya. Akupun ikut berhenti. Dia terlihat menatap ke arah sebuah kelas. 'Psikologi A'. Itu adalah kelas khusus anak-anak yang mampu menangani segala kasus tentang kejiwaan. Tidak banyak yang bisa lolos mengikuti kelas khusus. Mungkin hanya 20 orang saja, itupun maksimal.
Perempuan itu mengulurkan tangannya memegang ganggang pintu. Cukup lama dia hanya memegang ganggang pintu tersebut. Lagi-lagi benakku bertanya 'kenapa dia ini?'. Walaupun dia menarik ganggang pintu, itu tidak akan berguna. Pintu itu terkunci. Setelah cukup lama memegang ganggang pintu dia melepaskannya. Dia membalikkan badannya, mata kami saling bertemu. Dia sedikit terkejut sepertinya tapi dia mencoba mengabaikanku. Dia berjalan ke arahku, semakin dekat dia ke arahku dan aku hanya melihat wajahnya yang sangat pucat.
"Kenapa kau kembali?" tanyaku saat dia tepat berjalan di sisiku. Dia menghentikan langkah kakinya beberapa saat lalu mulai melangkah kembali.
"BUKANKAH KAU SUDAH MATI??? KENAPA KAU KEMBALI DINDA!!! KENAPA!!!!" Teriakku marah.
"Kau yang berkata padaku bahwa kau sudah mati, kau yang berkata padaku bahwa kau tak disisiku lagi, kau yang berkata padaku bahwa kau berhenti, dan kau...." ucapanku terputus saat aku merasakan tangan dingin itu menggenggam tanganku. Aku membalikkan badanku. Menatap perempuan yang kucintai. Dinda, perempuan yang sangat kucintai 2 tahun lalu.
"Aku memang sudah mati, maafkan aku reno" air matanya mengalir. Air mata yang sama. Air mata yang mengalir sama seperti terakhir kali aku melihatnya. Melihat dinda menangis karena kesakitan.
"Aku sudah bangun dari mimpiku kan? Kenapa kau menunjukkan wajahmu lagi? Aku akan segera lulus dari sini..." aku ingin menggapai air mata yang sedari tadi menetes dari mata dinda. Tapi aku sangat takut. Takut kembali menjadi tak beguna.
"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena kau sudah sembuh, dan aku berharap banyak padamu untuk impianku dan impianmu" dinda melepaskan genggamannya pada tanganku. Dinda tersenyum samar dengan derai air mata. Matakupun terasa panas, dan setetes air mata ikut jatuh saat aku mengedipkan mata. Dinda semakin menjauh, pandanganku pada dinda semakin mengabur, dinda semakin hilang bagai kabut dan dinda terbang bersama angin yang berhembus.

Flashback off

Ceritaku pada masa lalu. Cerita cintaku pada dinda. Cerita kepahitan pada masa kelamku selama dua tahun. Aku merasakan itu semua. Dan yang perlu kupercayai, aku melewati masa-masa itu dengan begitu baik.
Kini, aku reno. Berdiri dengan gagah sebagai dokter psikolog yang sukses. Dokter yang selalu mementingkan kesembuhan pasien, bukan hanya untuk citraku sebagai dokter.
Kini sudah tidak ada lagi reno yang mencari dinda. Sudah tidak ada lagi reno yang tak berguna di rumah sakit jiwa. Tidak ada lagi reno yang disembuhkan. Aku adalah reno.
"Dokter, ayo konsultasi" ajak perempuan manis di depanku.
"Iya, mari kita selesaikan ini semua dan membuat cerita yang baru untuk kita" aku menggenggam tangan bunga mengajaknya ke ruanganku.

Saat ini reno adalah seorang dokter psikologi. Reno adalah hanya salah satu pria yang berbagi cerita dengan dinda di masa lalu. Kini reno akan memulai cerita cintanya kembali. Membangun sebuah cinta bersama seseorang yang sangat ingin ia sembuhkan. Kisah cinta reno dan bunga. Kini yang ada adalah reno yang akan menyembuhkan cintanya, reno yang akan memulai kembali merasakan jatuh cinta. Ya, itulah reno si dokter psikologi.

Selasa, 26 Juli 2016

Cerpen 'Dr. Psikolog 1'

Aku berjalan menyusuri lorong kampus. Lorong ini begitu sepi, padahal biasanya banyak sekali mahasiswa yang berlalu lalang. Bukan karena libur, tetapi saat ini menunjukkan pukul 20.00 malam. Tidak ada lagi aktivitas di kampus bonafit ini.

Aku kembali menyipitkan mataku. Memfokuskan pada seseorang yang sedari tadi kuikuti. Aku tidak mengenalnya, tapi tiga hari terakhir dia selalu melewati parkiran saat aku akan mengambil motor dan itu cukup membuatku penasaran. Aku mengikuti sebuah organisasi, dan rapatku berakhir sekitar pukul 19.00 malam. Itulah alasanku masih berada di area kampus di jam selarut ini.
Mataku sedikit melebar saat melihat perempuan itu terus berjalan ke arah kelas psikologi. Banyak sekali pertanyaan di benakku. Untuk apa dia kesini? Sendirian? Kenapa dia cukup berani? Tapi kuurungkan semua pertanyaan pada pikiranku. Aku kembali menatap punggung perempuan itu.

Seseorang yang sedari tadi kuikuti menghentikan langkahnya. Akupun ikut berhenti. Dia terlihat menatap ke arah sebuah kelas. 'Psikologi A'. Itu adalah kelas khusus anak-anak yang mampu menangani segala kasus tentang kejiwaan. Tidak banyak yang bisa lolos mengikuti kelas khusus. Mungkin hanya 20 orang saja, itupun maksimal.
Perempuan itu mengulurkan tangannya memegang ganggang pintu. Cukup lama dia hanya memegang ganggang pintu tersebut. Lagi-lagi benakku bertanya 'kenapa dia ini?'. Walaupun dia menarik ganggang pintu, itu tidak akan berguna. Pintu itu terkunci. Setelah cukup lama memegang ganggang pintu dia melepaskannya. Dia membalikkan badannya, mata kami saling bertemu. Dia sedikit terkejut sepertinya tapi dia mencoba mengabaikanku. Dia berjalan ke arahku, semakin dekat dia ke arahku dan aku hanya melihat wajahnya yang sangat pucat.
"Kenapa kau kembali?" tanyaku saat dia tepat berjalan di sisiku. Dia menghentikan langkah kakinya beberapa saat lalu mulai melangkah kembali.
"BUKANKAH KAU SUDAH MATI??? KENAPA KAU KEMBALI DINDA!!! KENAPA!!!!" Teriakku marah.
"Kau yang berkata padaku bahwa kau sudah mati, kau yang berkata padaku bahwa kau tak disisiku lagi, kau yang berkata padaku bahwa kau berhenti, dan kau...." ucapanku terputus saat aku merasakan tangan dingin itu menggenggam tanganku. Aku membalikkan badanku. Menatap perempuan yang kucintai. Dinda, perempuan yang sangat kucintai 2 tahun lalu.
"Aku memang sudah mati, maafkan aku reno" air matanya mengalir. Air mata yang sama. Air mata yang mengalir sama seperti terakhir kali aku melihatnya. Melihat dinda menangis karena kesakitan. Dinda kecelakaan karnaku, dinda tertabrak mobil saat ingin menemuiku. Semua ini salahku. Dinda kumohon, jangan seperti ini.

Flashback 2 tahun lalu
Sepasang kekasih baru saja keluar dari sebuah kelas khusus psikologi yang hanya mampu ditempati anak-anak pandai saja. Betapa beruntungnya mereka berdua dianugrahi otak-otak yang begitu encer. Banyak sekali orang diluar sana yang iri melihat pasangan ini. Bagaimana tidak iri? Mereka saling mencintai, saling melengkapi, dan mereka sama-sama lolos di kelas khusus psikologi A dengan 13 orang lainnya. Mereka berdua adalah reno dan dinda.
"Din, kamu tunggu di gerbang ya, aku ambil motor dulu" reno melambaikan tangannya. Dinda menganggukkan kepalanya lalu berjalan ke arah gerbang kampus.
10 menit dinda menunggu, dari kejauhan dinda dapat melihat reno. Berniat berjalan mendekat dari arah reno datang, dinda tidak melihat sekelilingnya. Sebuah mobil yang baru akan masuk ke area kampus begitu cepat menabraknya. Posisinya tidak menguntungkan, saat ditabrak tulang belakang kepalanya terantuk trotoar. Karena begitu parah dinda meninggal saat perjalanan ke rumah sakit.

Semenjak kejadian tersebut, reno begitu terpukul. Reno tidak percaya dinda meninggal di depan matanya sendiri. Kejiwaan reno terganggu. Dia sering berhalusinasi mengenai dinda. Reno adalah anak kelas khusus psikologi tapi kejadian ini seolah menerbangkan pikiran reno. Reno tidak dapat berfikir jernih. Dia begitu tertekan dan ketakutan. Karena kejadian ini akhirnya reno di keluarkan dari kelas khusus. Dia masuk ke kelas reguler.

Flashback off.

Reno menatap dalam mata itu. Mata yang dua tahun tak pernah dia lihat. Tapi tangan dingin dinda menutup mata reno.
"Aku kesini untuk berpamitan ren, sadarlah. Aku tidak nyata.. Aku bukanlah dinda.. Aku sudah pergi dua tahun lalu.. Bangunlah ren dari mimpimu.. Hadapi kenyataan ini, lanjutkan mimpi kita, jadilah seorang dokter psikologi yang hebat dan sembuhkan mereka ren, jangan kau yang disembuhkan.. Reno, bangunlah..."

Dengan nafas terengah-engah reno membuka matanya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Nafasnya tak beraturan. Keringatnya menetes begitu deras dari pelipis dan dahinya.
"Apa anda baik-baik saja? Tenanglah tuan reno.. Dokter akan segera datang" seorang suster mengelus pelan lengan reno. Tidak lama pria berjas putih masuk ke dalam ruangan serba putih itu.
"Apa yang terjadi? Mas reno? Ada apa? Apa anda melihat dinda lagi?" tanya dokter tersebut beruntun. Reno memalingkan wajahnya ke arah dokter saat mendengar kata 'dinda'.
"Tidak apa-apa. Dinda baik-baik saja saat ini, tidak apa-apa" dokter itu berusaha meyakinkan.
"Apa katamu yang baik-baik saja? Dia meninggal dok.. Dia pergi 2 tahun lalu, dia berpamitan padaku" reno menatap sendu mata sang dokter.
"Kau mengingatnya?" dokter tampan tersebut mengerutkan keningnya. Pasalnya reno selama dua tahun ini selalu berhalusinasi mengenai dinda. Dia berkata bahwa dinda di sisinya. Dia berkata bahwa dinda bersamanya. Tapi ucapannya barusan, mengatakan bahwa dindanya sudah meninggal. Apa reno sudah sembuh dari sakitnya?

Sabtu, 23 Juli 2016

Cerpen 'Chatting'

Sudah dua minggu ini tidak ada satupun chat dari Eric. Aku menunggunya tentu saja. Kita bahkan sebelumnya sering menghabiskan malam minggu untuk bercanda berdua. Tetapi, ini sudah memasuki minggu ketiga dan eric tak menunjujukkan tanda-tanda. Semua sosmednya aktif, aku tau itu. Tapi, apa dia sudah bosan denganku? Sampai chat satupun tidak ada.
Aku tau diri, eric bukan siapa-siapaku. Aku tidak memiliki hubungan dengannya. Tapi, biarkan aku berharap untuk menunggu pesan darinya. Hanya sekedar itu, kuharap aku tidak serakah.

Karena tak kunjung ada tanda bahwa eric akan memulai chat terlebih dahulu, akan kumulai saja. Baiklah, kali ini biarkan aku yang memulai mencarinya.

'Isi chat whatsapp'
"Hai eric!!" terkirim.
"Oh ceri, hai" diterima.
Lihat? Tidak perlu aku menunggu lama, chatku yang baru saja kukirim sudah dibalasnya.
"Gapernah ngechat?" terkirim.
"Kukira sibuk" diterima.
Baiklah. Untuk jawaban yang ini, sebuah alasan yang klise.
"Sejak kapan aku sibuk?" terkirim.
"Biasanya kamu sibuk" diterima.
"Alasan deh! Kan lagi libur kuliah" terkirim.
"Haha. Ya gitu cer" diterima.
Beginilah isi chat-chatanku dengan eric. Tidak ada yang special sama sekali. Datar. Hanya pesan yang ringan. Dan semua itu tidak lama, eric mengakhiri chattingan hanya dengan membacanya saja. Tidak berpamitan seperti harapanku. Baiklah, aku terlalu berharap untuk mendapatkan kata pamit darinya.

Sejak hari itu aku tidak pernah memulai untuk chat terlebih dahulu. Biarlah eric yang memulai. Jika aku yang memulai dan hanya mendapatkan sebuah akhiran 'terbaca' saja itu membuatku sakit hati. Tidakkah dia ingin menghargaiku? Tidakkah dia tau aku menunggunya? Kurasa tidak!!!

Selamat Hari Anak Nasional

Saat ini aku tengah mengenyam pendidikan guru di sebuah universitas negeri. Aku masih di semester 5, jadi kira-kita masih butuh 1,5 tahun lagi untuk wisuda.

Bicara mengenai tanggal 23 juli 2016 ini, memperingati hari anak nasional. Begitu banyak harapan dari segala pihak pada anak-anak bangsa. Begitu juga aku yang sejatinya adalah calon guru.

Seorang anak mendapat pelajaran pertama kali dari orang tua mereka. Pelajaran tentang hidup, tentang hal-hal dasar di dunia ini.
Menginjak usia 4 tahun, seorang anak akan mendapat pelajaran baru. Mengasah otak mereka dengan materi-materi berbeda. Pada tingkat pendidikan taman kanak-kanak saat ini kesulitan sudah cukup membebani anak bangsa. Tapi, dengan dikemas secara menyenangkan dan banyak permainan, semua itu terasa menarik.
Dua tahun berada di TK, kembali melanjutkan pada sekolah dasar. Pada tingkat ini seorang anak sudah dituntut menunjukkan hasil belajar mereka. Ada sebuah laporan tiap semester. Hasil-hasil belajar mereka sebagai tolak ukur, apakah anak tersebut sudah berhasil atau belum. Materi ajar pada tahap ini dibagi menjadi enam kelas, kelas pertama sampai keenam. Materi ajar sesuai dengan tahap yang mereka jejaki. Semakin tinggi kelas mereka, semakin luas pula wawasan yang perlu diketahui.
Selanujutnya sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Disini adalah tahap pendewasaan pemikiran. Bagaimana seorang anak sudah mampu menalar materi ajar mereka dengan kehidupan mereka. Pemikiran yang matang perlu untuk pembelajaran dan bekal mereka.

Pembelajaran selanjutnya pilihan seorang anak berkuliah atau tidak. Tetapi apapun itu, pembelajaran selanjutnya adalah lebih pada kenyataan. Pilihan seorang anak. Apakah mereka akan melakukan sebuah pekerjaan? Sebuah pekerjaan yang digunakan sebagai profesi mereka.

Sejatinya pendidikan itu perlu. Bahkan dalam agama saya, mencari ilmu itu hukumnya wajib. Dan ada sebuah pepatah, carilah ilmu sampai ke negri cina, sejauh apapun itu kejarlah ilmu karena ilmu tidak akan mendatangimu sendiri.

Aku, calon guru, berharap banyak pada anak nasional ini. Banggakanlah orang tuamu. Laksanakanlah perintah agamamu. Berbaktilah pada negaramu.

Dari diriku pribadi.
Terima kasih pada sang pencipta, Allah swt.
Terima kasih ibuku atas ilmumu, terima kasih juga ayahku, dan orang-orang sekitarku.
Terima kasih bapak ibu guruku dalam menuntut ilmu umum maupun ilmu agama.
Terima kasih untuk semua ilmu yang sudah kudapatkan sampai saat ini.
Harapan terbesarku, semoga ilmu yang aku miliki dapat bermanfaat jika kelak aku menjadi seorang guru.

#SELAMAT HARI ANAK NASIONAL#