Translate

Selasa, 26 Juli 2016

Cerpen 'Dr. Psikolog 1'

Aku berjalan menyusuri lorong kampus. Lorong ini begitu sepi, padahal biasanya banyak sekali mahasiswa yang berlalu lalang. Bukan karena libur, tetapi saat ini menunjukkan pukul 20.00 malam. Tidak ada lagi aktivitas di kampus bonafit ini.

Aku kembali menyipitkan mataku. Memfokuskan pada seseorang yang sedari tadi kuikuti. Aku tidak mengenalnya, tapi tiga hari terakhir dia selalu melewati parkiran saat aku akan mengambil motor dan itu cukup membuatku penasaran. Aku mengikuti sebuah organisasi, dan rapatku berakhir sekitar pukul 19.00 malam. Itulah alasanku masih berada di area kampus di jam selarut ini.
Mataku sedikit melebar saat melihat perempuan itu terus berjalan ke arah kelas psikologi. Banyak sekali pertanyaan di benakku. Untuk apa dia kesini? Sendirian? Kenapa dia cukup berani? Tapi kuurungkan semua pertanyaan pada pikiranku. Aku kembali menatap punggung perempuan itu.

Seseorang yang sedari tadi kuikuti menghentikan langkahnya. Akupun ikut berhenti. Dia terlihat menatap ke arah sebuah kelas. 'Psikologi A'. Itu adalah kelas khusus anak-anak yang mampu menangani segala kasus tentang kejiwaan. Tidak banyak yang bisa lolos mengikuti kelas khusus. Mungkin hanya 20 orang saja, itupun maksimal.
Perempuan itu mengulurkan tangannya memegang ganggang pintu. Cukup lama dia hanya memegang ganggang pintu tersebut. Lagi-lagi benakku bertanya 'kenapa dia ini?'. Walaupun dia menarik ganggang pintu, itu tidak akan berguna. Pintu itu terkunci. Setelah cukup lama memegang ganggang pintu dia melepaskannya. Dia membalikkan badannya, mata kami saling bertemu. Dia sedikit terkejut sepertinya tapi dia mencoba mengabaikanku. Dia berjalan ke arahku, semakin dekat dia ke arahku dan aku hanya melihat wajahnya yang sangat pucat.
"Kenapa kau kembali?" tanyaku saat dia tepat berjalan di sisiku. Dia menghentikan langkah kakinya beberapa saat lalu mulai melangkah kembali.
"BUKANKAH KAU SUDAH MATI??? KENAPA KAU KEMBALI DINDA!!! KENAPA!!!!" Teriakku marah.
"Kau yang berkata padaku bahwa kau sudah mati, kau yang berkata padaku bahwa kau tak disisiku lagi, kau yang berkata padaku bahwa kau berhenti, dan kau...." ucapanku terputus saat aku merasakan tangan dingin itu menggenggam tanganku. Aku membalikkan badanku. Menatap perempuan yang kucintai. Dinda, perempuan yang sangat kucintai 2 tahun lalu.
"Aku memang sudah mati, maafkan aku reno" air matanya mengalir. Air mata yang sama. Air mata yang mengalir sama seperti terakhir kali aku melihatnya. Melihat dinda menangis karena kesakitan. Dinda kecelakaan karnaku, dinda tertabrak mobil saat ingin menemuiku. Semua ini salahku. Dinda kumohon, jangan seperti ini.

Flashback 2 tahun lalu
Sepasang kekasih baru saja keluar dari sebuah kelas khusus psikologi yang hanya mampu ditempati anak-anak pandai saja. Betapa beruntungnya mereka berdua dianugrahi otak-otak yang begitu encer. Banyak sekali orang diluar sana yang iri melihat pasangan ini. Bagaimana tidak iri? Mereka saling mencintai, saling melengkapi, dan mereka sama-sama lolos di kelas khusus psikologi A dengan 13 orang lainnya. Mereka berdua adalah reno dan dinda.
"Din, kamu tunggu di gerbang ya, aku ambil motor dulu" reno melambaikan tangannya. Dinda menganggukkan kepalanya lalu berjalan ke arah gerbang kampus.
10 menit dinda menunggu, dari kejauhan dinda dapat melihat reno. Berniat berjalan mendekat dari arah reno datang, dinda tidak melihat sekelilingnya. Sebuah mobil yang baru akan masuk ke area kampus begitu cepat menabraknya. Posisinya tidak menguntungkan, saat ditabrak tulang belakang kepalanya terantuk trotoar. Karena begitu parah dinda meninggal saat perjalanan ke rumah sakit.

Semenjak kejadian tersebut, reno begitu terpukul. Reno tidak percaya dinda meninggal di depan matanya sendiri. Kejiwaan reno terganggu. Dia sering berhalusinasi mengenai dinda. Reno adalah anak kelas khusus psikologi tapi kejadian ini seolah menerbangkan pikiran reno. Reno tidak dapat berfikir jernih. Dia begitu tertekan dan ketakutan. Karena kejadian ini akhirnya reno di keluarkan dari kelas khusus. Dia masuk ke kelas reguler.

Flashback off.

Reno menatap dalam mata itu. Mata yang dua tahun tak pernah dia lihat. Tapi tangan dingin dinda menutup mata reno.
"Aku kesini untuk berpamitan ren, sadarlah. Aku tidak nyata.. Aku bukanlah dinda.. Aku sudah pergi dua tahun lalu.. Bangunlah ren dari mimpimu.. Hadapi kenyataan ini, lanjutkan mimpi kita, jadilah seorang dokter psikologi yang hebat dan sembuhkan mereka ren, jangan kau yang disembuhkan.. Reno, bangunlah..."

Dengan nafas terengah-engah reno membuka matanya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Nafasnya tak beraturan. Keringatnya menetes begitu deras dari pelipis dan dahinya.
"Apa anda baik-baik saja? Tenanglah tuan reno.. Dokter akan segera datang" seorang suster mengelus pelan lengan reno. Tidak lama pria berjas putih masuk ke dalam ruangan serba putih itu.
"Apa yang terjadi? Mas reno? Ada apa? Apa anda melihat dinda lagi?" tanya dokter tersebut beruntun. Reno memalingkan wajahnya ke arah dokter saat mendengar kata 'dinda'.
"Tidak apa-apa. Dinda baik-baik saja saat ini, tidak apa-apa" dokter itu berusaha meyakinkan.
"Apa katamu yang baik-baik saja? Dia meninggal dok.. Dia pergi 2 tahun lalu, dia berpamitan padaku" reno menatap sendu mata sang dokter.
"Kau mengingatnya?" dokter tampan tersebut mengerutkan keningnya. Pasalnya reno selama dua tahun ini selalu berhalusinasi mengenai dinda. Dia berkata bahwa dinda di sisinya. Dia berkata bahwa dinda bersamanya. Tapi ucapannya barusan, mengatakan bahwa dindanya sudah meninggal. Apa reno sudah sembuh dari sakitnya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar