Translate

Kamis, 14 Juli 2016

Cerpen 'Rajutan untuk Bagas'

Menyimpan sebuah perasaan bukanlah hal yang mudah. Harus menahan semua gejolak perasaan yang semakin tumbuh. Bukan keinginanku untuk memendamnya begini saja. Banyak hal yang menyebabkanku harus rela memendam perasaanku. Aku dan bagas adalah sahabat. Bersahabat sejak di bangku SMA. Teman-temanku berkata "ini friendzone" "ah, sahabat jadi cinta". Dan masih banyak lagi ucapan-ucapan dari mereka. Aku sendiri tidak berfikir untuk mengembangkan lebih jauh perasaan ini. Cukup aku saja yang merasakannya. Perasaan lebih dari seorang sahabat.
Aku duduk di bangku aula kampus. Beberapa saat lalu aku sudah mengirim sebuah pesan singkat untuk bagas dan mengajak bertemu disini. Dan bagas mengiyakan ajakanku. Lima belas menit sudah aku menunggunya. Tapi sosok bagas yang tinggi, berkulit putih dengan hidung bangir dan lesung pipi di pipi kirinya itu belum menampakkan diri. Aku sudah hampir bosan menunggunya. Hampir... Hampir saja aku akan berdiri dari dudukku dan meninggalkan area aula. Tapi dari jauh aku melihat seorang laki-laki berlari ke arahku.
"Hahhh!!! Sorry, lama ya? Tadi si bunga minta anterin ke perpustakaan dulu" bagas duduk di bangku sebelahku. Bunga adalah pacar bagas. Sudah dua bulan mereka menjalin sebuah hubungan. Dan hal ini juga yang membuatku semakin sulit bersama bagas.
"Kukira kamu tidak jadi datang" aku menoleh ke arah bagas. Dia tersenyum dan lesung pipi itu terlihat jelas saat bagas tersenyum.
"Mana mungkin aku tidak datang? Sesibuk apapun itu aku akan menemuimu jika kamu meminta aku menemuimu" ucapan bagas menusuk tepat di dadaku. Sakit. Perkataannya memang sangat manis. Tapi ucapan bagas sangat menyakitkan untukku. Apalah arti ucapan itu kalau semua itu hanya ucapan untuk seorang teman? Aku sudah menunggu bagas begitu lama. Tapi, dia menjatuhkan hati dengan teman satu fakultasnya, bunga. Saat di bangku SMA, bagas tidak pernah menyukai perempuan disana. Tapi hal itu berbeda saat kami sudah berkuliah. Bagas jatuh cinta pada sosok bunga.
"Aku cuma mau ngasih ini" aku menyerahkan sebuah rajutan topi untuk bagas.
"Kali ini apa? Topi? Wah keterampilanmu semakin membaik" bagas memutar-mutar topi rajutan dariku. Aku merajutnya dengan hati-hati. Sebuah topi rajutan berwarna hitam. Warna kesukaan bagas.
"Bagus? Kamu suka?" tanyaku tersenyum melihay antusias bagas.
"Iya. Makasih cinta. Aku akan menyimpannya bersama rajutan-rajutan darimu yang lainnya" bagas membalas senyumanku. Begitu bagas tersenyum lesung pipinya kembali nampak. Betapa semakin tampannya laki-laki ini. Andai aku bisa memilikinya.
"Kuharap kamu menyimpannya dengan baik" aku berdiri dari dudukku. Menyudahi pertemuan ini. Walaupun aku masih ingin berlama-lama dengannya. Tapi, aku takut tidak dapat mengendalikan perasaanku.
"Kamu akan buatkan apa lagi?" tanyanya ikut berdiri dari duduknya. Aku memang sering membuatkan bagas sebuah rajutan seusai lulus SMA.
"Ra-ha-si-a" jawabku.
"Baiklah-baiklah. Aku akan menunggu hasil karya sahabatku ini" bagas mengacak rambutku. "Aku pergi dulu ya, bunga udah nunggu di parkiran nih" sebelum pergi bagas tersenyum dan setelah itu dia menjauh. Dia pergi menemui kekasihnya.
Sahabat. Sampai kapanpun bagas akan menganggapku hanya seorang sahabat. Dan sampai kapanpun aku hanya bisa bersama bagas sebagai sahabat. Aku tidak ada hak memintanya merubah status kita. Bagas telah bahagia. Bersama bunga, kekasih hatinya. Biarkan aku memcurahkan kasih sayangku melalui rajutan-rajutan hasil tanganku. Akan kubuat rajutan dengan penuh perasaan dan penuh kasih sayang yang tulus. Kasih sayang tanpa mengharapkan balasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar