Translate

Jumat, 29 Juli 2016

Cerpen 'Anak TKW dan Penjudi'

Seperti biasanya, aku menyiapkan kopi untuk kakekku pagi ini. Si kakek sedang asik dengan koran yang dibacanya. Aku meletakkan secangkir kopi di meja. Kaca mata baca bertengger di hidung bangirnya. Dan dengan ekspresi serius si kakek membaca korannya. Aku akan bergegas ke sekolah, sebelum itu kebiasaanku adalah mengecek isi tasku.

"Baca apa kek pagi ini?" aku duduk di kursi kosong tidak jauh dari kakek.
"Ini, berita banyaknya anak remaja yang suka minum-minuman sampai melakukan kekerasan" jawab si kakek. Pandangannya tak turut lepas dari koran.
"Ohh.. Kemarin ada sidak di sekolah, ada 15 anak laki-laki kena razia bawa rokok kek" ceritaku mengingat sidak tiba-tiba kemarin.
"Lihat itu, masih SMP udah bawa rokok nanti SMA Narkoba! Mau jadi apa generasi muda ini, kakek gak habis pikir! Kamu jangan gitu loh anto" kakekku melipat korannya dan memandangku garang.
"Iya kek, aku juga mikirin masa depanku kok" aku mengibas-ibaskan tanganku.
"Jangan main sama mereka, pergaulan yang gak baik" si kakek menasehati.
"Tapi kek, salah satu dari lima belas orang itu dari kecil main bareng sama aku kek. Aku juga gak tau kalau dia perokok. Selama ini dia teman yang baik, ramah, bahkan setahuku temannya cuma aku saja" ceritaku sambi menerawang sosok yang kuceritakan.
"Temen? Siapa? Udah ah jangan dideketin, ntar kamu ikutan lagi!! Kakek gamau ya kalau kamu sampai kayak gitu!!" kakekku menyeruput kopinya.
"Budi kek, anak gang sebelah yang ibunya jadi TKW di Arab saudi. Dia cuma tinggal sama bapaknya aja, trus bapaknya jarang di rumah juga, emm suka judi kek" jawabku nyinyir, betapa miris kehidupan budi.
"Anak yang kalau kesini sopan banget itu? Ya ampun anto, dari penampilannya kakek kira dia anak baik-baik" kakekku memijit pelipisnya.
"Anto juga pikir budi anak yang baik kek, selama berteman sama anto , dia gapernah ngomong kasar ataupun ngajakin hal yang buruk. Kemarin aja aku kira budi di jebak sama anak-anak badung itu tapi nyatanya budi ngakuin rokok milik dia" aku menyenderkan punggungku ke kursi.
"Pagi-pagi kok pada pasang wajah frustasi gini" ibuku dari dalam rumah meletakkan sepiring gorengan dan sebotol minum yang disisipkan di saku tasku.
"Budi bu.. Ketahuan bawa rokok" ceritaku.
"Ibu sudah tahu, ibu pernah gak sengaja ketemu dia beli rokok di toko bu aminah. Ibu kira buat bapaknya eh gataunya pas ibu mau jalan pulanh ibu liat dia di balkon rumahnya lagi ngerokok" ibu merapikan anak rambutku yang sedikit berantakan.
"Kok ibu gak ngelarang anto main sama dia?" aku mengernyitkan dahi. Bahkan kakekku saja menolak aku berteman tapi kenapa ibuku santai-santai saja.
"Apa dia ngajak kamu merokok juga?" tanya ibu.
"Enggak bu, aku aja gatau kalo budi ngerokok" aku menjawabnya sambil memakai sepatuku.
"Nah, ibu tau budi bukan anak yang jahat. Dia cuma punya kamu, dia anak rumahan sebenernya cuma kurang ada perhatian aja dari bapak sama ibunya jadi ya begini deh dia bisa semaunya tanpa tau itu buruk atau baik. Dia pasti nyontoh ayahnya yang penjudi dan perokok. Kamu sebagai temennya kalau bisa ajak dia berubah, sering ajakin melakukan aktifitas yang positif. Ibu juga gak keberatan dia main di rumah"

Aku mendengarkan ucapan ibuku yang sangat panjang itu. Tidak ada yang salah dari ucapannya. Aku seharusnya memang merubah budi, bukan malah menjauhinya. Pasti bukan keinginan budi juga menjadi seperti ini. Kurangnya perhatian dari orang yang bertanggung jawab atas dirinyalah penyebab ini semua.

"Anto..." panggil seseorang di luar pagar.
"Oiii budi!! Tunggu bentar. Kek, pamit dulu ya.. Bu, pamit, budi udah jemput. Anto janji bu, budi sahabat anto bakal berubah" aku mengulurkan tanganku mencium tangan kakek dan ibuku.
"Ayo budi, udah setengah 7 nih"
"Mari kek, bibi, kita berangkat dulu"
"Hati-hati" saut ibu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar