Translate

Rabu, 27 Juli 2016

Cerpen 'Dr. Psikolog 2'

Seorang pria berjas putih berjalan santai di rumah sakit jiwa. Dia adalah dokter yang menangani pasien dengan berbagai macam gangguan. Dia adalah sosok dokter yang banyak diperbincangkan saat ini. Semua studi yang ditinggalkannya selama dua tahun tak menghambat kelulusannya di tahun ke lima. Dia lulus dengan predikat terbaik. Otak encer yang dua tahun serasa lumpuh sepertinya telah kembali. Berbagai macam metode baru dan peralatan modern dikembangkan pria ini dengan sukses untuk menyembuhkan pasiennya.
"Selamat pagi dokter reno" seorang perempuan menyapa dokter tampan ini.
"Oh, selamat pagi bunga. Kau mau konsultasi?" reno tersenyum pada pasiennya.
"Iya dokter, aku sudah sangat jauh lebih baik sekarang" puji bunga pada dirinya sendiri.
"Iya, kau sudah melakukannya dengan baik" reno mengelus surai hitam rambut bunga. 'Kau sangat mirip dengan seseorang yang sudah menyembuhkanku' batin reno.

Flashback
"Apa anda tau siapa anda?" tanya seorang dokter pada pasiennya.
"Apa anda gila? Aku reno. Mana mungkin aku tidak tau" reno mengerutkan keningnya marah.
"Dan dinda..." dokter itu diam beberapa saat menunggu reaksi reno. "Kau tidak mencarinya?" dokter tersebut membelalakkan matanya. Bagaimana bisa, pasien yang baru tadi pagi masih meraung-raung menginginkan dindanya kini tak bergeming saat mendengar nama dinda.
"Aku akan datang setelah ini" jawab reno tersenyum ke arah pintu. Ada seorang perawat masuk. Dia adalah perawat yang selalu reno katakan sebagai dinda.
"Dia? Dia dinda?" tanya dokter tersebut sedikit harap-harap cemas.
"Bagian mana yang mirip dinda dok? Jelas-jelas namanya tertulis pada name tag 'Laras' bukan?" reno menatap pria berjas putih itu dengan tatapan tidak suka.
"Kau sudah sembuh? Oh my god!! Reno selamat. Aku tidak tau apa yang telah terjadi tetapi sarafmu kembali kurasa. Kita akan melakukan pengecekan dan juga terapi besok untuk memastikan ini" dokter tersebut tersenyum lega. Pasiennya kembali normal. Pasien yang selama dua tahun hanya bertanya 'dimana dinda?' 'apa dinda sudah sembuh?' 'dinda kenapa tidak menjengukku?' saat ini telah sadar dari halusinasinya.

Setelah semua pengecekan terhadap reno, dokter mengijinkan pulang. Reno sendiri melanjutkan kuliahnya yang tertunda selama dua tahun. Dia menjadi pria yang cerdas lagi. Dia mengikuti organisasi yang sering mengadakan sebuah event. Dan kali ini reno di tunjuk sebagai ketua event kali ini.
"Oke, balik dulu ya guys" pamit reno pada teman-temannya yang masih asik mengobrol.
Reno berjalan ke arah parkiran. Tepat saat reno akan menyalakan mesin motornya reno melihat seorang perempuan berjalan sendirian.
"Bukankah dia perempuan yang kemarin juga lewat sini? Mau apa malam-malam begini dia ke area kelas perkuliahan?" reno tidak jadi menyalakan mesin motornya. Dia mengikuti perempuan itu.
Reno kembali menyipitkan matanya. Memfokuskan pada seseorang yang sedari tadi diikuti. Reno tidak mengenalnya, tapi tiga hari terakhir dia selalu melewati parkiran saat reno akan mengambil motor dan itu cukup membuatnya penasaran.
Mata reno sedikit melebar saat melihat perempuan itu terus berjalan ke arah kelas psikologi. Banyak sekali pertanyaan di benaknya. Untuk apa dia kesini? Sendirian? Kenapa dia cukup berani? Tapi semua pertanyaan pada pikiran reno diabaikannya. Reno kembali menatap punggung perempuan itu.

Reno Pov.
Seseorang yang sedari tadi kuikuti menghentikan langkahnya. Akupun ikut berhenti. Dia terlihat menatap ke arah sebuah kelas. 'Psikologi A'. Itu adalah kelas khusus anak-anak yang mampu menangani segala kasus tentang kejiwaan. Tidak banyak yang bisa lolos mengikuti kelas khusus. Mungkin hanya 20 orang saja, itupun maksimal.
Perempuan itu mengulurkan tangannya memegang ganggang pintu. Cukup lama dia hanya memegang ganggang pintu tersebut. Lagi-lagi benakku bertanya 'kenapa dia ini?'. Walaupun dia menarik ganggang pintu, itu tidak akan berguna. Pintu itu terkunci. Setelah cukup lama memegang ganggang pintu dia melepaskannya. Dia membalikkan badannya, mata kami saling bertemu. Dia sedikit terkejut sepertinya tapi dia mencoba mengabaikanku. Dia berjalan ke arahku, semakin dekat dia ke arahku dan aku hanya melihat wajahnya yang sangat pucat.
"Kenapa kau kembali?" tanyaku saat dia tepat berjalan di sisiku. Dia menghentikan langkah kakinya beberapa saat lalu mulai melangkah kembali.
"BUKANKAH KAU SUDAH MATI??? KENAPA KAU KEMBALI DINDA!!! KENAPA!!!!" Teriakku marah.
"Kau yang berkata padaku bahwa kau sudah mati, kau yang berkata padaku bahwa kau tak disisiku lagi, kau yang berkata padaku bahwa kau berhenti, dan kau...." ucapanku terputus saat aku merasakan tangan dingin itu menggenggam tanganku. Aku membalikkan badanku. Menatap perempuan yang kucintai. Dinda, perempuan yang sangat kucintai 2 tahun lalu.
"Aku memang sudah mati, maafkan aku reno" air matanya mengalir. Air mata yang sama. Air mata yang mengalir sama seperti terakhir kali aku melihatnya. Melihat dinda menangis karena kesakitan.
"Aku sudah bangun dari mimpiku kan? Kenapa kau menunjukkan wajahmu lagi? Aku akan segera lulus dari sini..." aku ingin menggapai air mata yang sedari tadi menetes dari mata dinda. Tapi aku sangat takut. Takut kembali menjadi tak beguna.
"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena kau sudah sembuh, dan aku berharap banyak padamu untuk impianku dan impianmu" dinda melepaskan genggamannya pada tanganku. Dinda tersenyum samar dengan derai air mata. Matakupun terasa panas, dan setetes air mata ikut jatuh saat aku mengedipkan mata. Dinda semakin menjauh, pandanganku pada dinda semakin mengabur, dinda semakin hilang bagai kabut dan dinda terbang bersama angin yang berhembus.

Flashback off

Ceritaku pada masa lalu. Cerita cintaku pada dinda. Cerita kepahitan pada masa kelamku selama dua tahun. Aku merasakan itu semua. Dan yang perlu kupercayai, aku melewati masa-masa itu dengan begitu baik.
Kini, aku reno. Berdiri dengan gagah sebagai dokter psikolog yang sukses. Dokter yang selalu mementingkan kesembuhan pasien, bukan hanya untuk citraku sebagai dokter.
Kini sudah tidak ada lagi reno yang mencari dinda. Sudah tidak ada lagi reno yang tak berguna di rumah sakit jiwa. Tidak ada lagi reno yang disembuhkan. Aku adalah reno.
"Dokter, ayo konsultasi" ajak perempuan manis di depanku.
"Iya, mari kita selesaikan ini semua dan membuat cerita yang baru untuk kita" aku menggenggam tangan bunga mengajaknya ke ruanganku.

Saat ini reno adalah seorang dokter psikologi. Reno adalah hanya salah satu pria yang berbagi cerita dengan dinda di masa lalu. Kini reno akan memulai cerita cintanya kembali. Membangun sebuah cinta bersama seseorang yang sangat ingin ia sembuhkan. Kisah cinta reno dan bunga. Kini yang ada adalah reno yang akan menyembuhkan cintanya, reno yang akan memulai kembali merasakan jatuh cinta. Ya, itulah reno si dokter psikologi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar