Mencintai satu sama lain. Itu adalah modal utama dalam menjalin sebuah hubungan. Saling menguatkan satu sama lain. Saling menjaga perasaan satu sama lain. Jika salah satunya terluka, salah satunya lagi yang menyembuhkan. Begitulah harusnya cinta dijalankan.
Janji-janji manismu masih kuingat. Betapa lembut bagaikan kapas setiap ucapanmu. Apapun kata manis dari mulutmu serasa menggelitik hatiku. Menerbangkanku setinggi langit biru. Semua karnamu. Semua sebabmu. Semua terjadi atas dasar dirimu.
Kau yang memulainya. Kau yang mengawali perasaan ini. Kau juga yang menumbuhkan benih-benih cinta ini. Kau juga yang mendebarkan hati ini. Kau juga yang menyalakan gejolak cinta ini. Tapi.. Kau juga yang memadamkan gejolak cinta yang kian membara. Sekali siram kau mematikan gejolak rasa yang begitu mengusik hatiku.
Setelah lima tahun kita berpijak pada satu titian. Lima tahun lamanya saling menggenggam. Dan lima tahun juga saling meleburkan dua insan menjadi satu jiwa. Namun dalam satu hari saja, tidak, hanya dalam 10 detik saja. 10 detik saja kau menghancurkan bangunan megah di hatiku. Kau menghancurkan istana yang kokoh kubangun atas dasar ketulusan. Kau hancurkan kepercayaan diriku atas kepemilikanmu. Kau menghancurkannya sekali hantam tepat dimana titik terlemahku.
"Kita sudahi saja hubungan ini, aku rasa lima tahun ini akan menjadi pelajaran yang berharga untukku"
Kata-kata itu. Kau ucapkan begitu mulus. Tanpa sedikitpun rasa ragu. Apakah kau begitu percaya diri mengucapkannya? Di depanku kau merapalkan kata-kata itu dengan mudah? Apa kau tidak melihat terlukanya aku saat mendengarnya? Kemana hatimu? Benarkah kebodohan ini kulakukan? Kebodohan mempercayakan sepenuh hatiku padamu, lima tahun terakhir.
Sangat sakit. Aku merasakan begitu banyak jarum di hatiku. Kurasa hubungan kita baik-baik saja. Kurasa selama ini hatimu masih berpihak padaku. Tapi nyatanya semua ketakutanku tiga bulan terakhir ini terjadi. Kau melukaiku. Kau menghentikan cintamu padaku. Kau membunuh semua perasaanmu padaku. Kau melupakan kenangan manis bersamaku.
Aku tidak bodoh asal kau tau saja. Tiga bulan terakhir aku memang sering memergokimu. Melihatmu menggoda seorang perempuan. Mungkin dia adalah teman perempuanmu, tebakku saat itu. Tapi kurasa saat ini aku merubah tebakkanku. Perempuan itu bukan hanya temanmu saja. Perempuan itu sosok special yang kau tempatkan di hatimu. Tempat yang pernah kumiliki. Tempat yang istimewa yang sempat kusinggahi. Tempat yang begitu hangat saat kau masih memujaku.
Baiklah jika ini maumu. Kuanggap luka ini adalah bahagiamu. Kuanggap kau tak melihatku mengalirkan air mata. Aku katakan semua ini berakhir. Cukup sampai disini, cukup ketulusanku mengalir. Akan kubendung sekuat tenaga agar perasaanku berhenti kala ini juga.
Dua bulan kemudian.
Aku ceri. Perempuan yang dicampakkan pria bernama aswin dua bulan lalu. Hubunganku dengan Aswin saat ini sangatlah canggung. Kami berada dalam satu kampus. Sering sekali bertemu saat di koridor atau aula. Dan kecanggunganku maupun dirinya semakin bertambah saat aswin dengan santainya merangkul seorang perempuan. Perempuan yang kutahu sebagai alasan aswin berhenti mencintaiku.
Aku duduk sendirian di aula kampus. Jam kuliahku masih 1 jam lagi. Aku hanya terduduk dengan malas memainkan gadget di tanganku. Tapi seseorang menarik gadgetku lalu menyodorkan segelaa kopi panas. Dia aswin. Mantan pacarku. Aku mengernyitkan dahiku. Sudah beberapa hari ini aku bertemu aswin berjalan sendirian tidak ditemani perempuannya. Dan saat aswin melihatku dia mendekatiku. Seperti saat ini.
"Ambillah. Jangan hanya bermain gadget" aswin duduk tepat disebelahku meletakkan gadget di atas tas jinjingku. Aku tak berminat mengobrol jadi kuteguk sedikit kopi panas darinya.
"Apa kau pernah tau kisah semut merah dan semut hitam?" aswin menatapku. Aku juga balik menatapnya. Kujawab dengan sebuah gelengan. Aswin menundukkan kepalanya lalu bercerita.
"Seekor semut hitam yang pendiam selalu diganggu oleh semut merah. Semut merah tak berniat sungguh-sungguh mengganggunnya tapi semut merah hanya ingin semut hitam sedikit memperhatikannya. Apakah kau tau kenapa semut merah bersikeras ingin sebuah perhatian semut hitam?" aswin mengangkat kepalanya menatapku. Aku mengalihkan pandanganku saat bertemu tepat di matanya.
"Cinta" jawabku singkat. Aswin tersenyum. Tanpa melihatpun aku tau, aswin menegakkan duduknya dan sedikit memiringkan tubuhnya menghadapku.
"Kau benar. Cinta si semut merah Itulah alasan dibalik keusilannya. Semut merahpun berhasil mendapatkan hati semut hitam. Semut hitam yang lembut selalu dilindungi si semut merah yang memang mempunyai gigitan yang tajam. Tapi suatu hari si semut merah bertanya 'aku memiliki gigitan yang sangat menyakitkan, kenapa kamu tidak takut padaku? Kita berbeda bukan?' dan semut hitam menjawab 'aku tidak takut karena aku percaya padamu, kau tidak akan menggigitku hingga aku terluka' " aswin menghentikan ceritanya. Aku menoleh ke arahnya. Aswin menundukkan kepalanya begitu dalam. Aku kembali mengernyitkan dahiku. Kenapa aswin? Kenapa dia seperti ini? Apa dia sedang ada masalah? Sebelum aku membuka mulutku, aswin melanjutkan ceritanya.
"Suatu hari si semut merah menemui semut hitam, semut merah berkata bahwa dia menemukan semut merah lainnya yang lebih cocok untuknya dan menginginkan semut hitam untuk mencari semut hitam lainnya. Saat itu kau tau apa kata si semut hitam?" aswin mengangkat kepalanya yang menunduk menatapku. Aku hanya menggelengkan kepalaku ikut menatapnya. Kami saling menatap kelopak mata kami. Sebuah kontak batin yang telah lama kami lupakan.
"Semut hitam berkata kau si semut merah memang tidak menggigitku hingga aku kesakitan tapi, kau tetaplah semut merah, semut merah yang menyakitiku tanpa perlu aku mendapatkan gigitanmu yang tajam" aswin menangis. Dia meneteskan air mata ketika mengakhiri ceritanya. Aswin berdiri dari duduknya. Aku masih tidak mengerti, kenapa aswin begini? Apa yang terjadi padanya?
"Apa kau tau setelah itu bagaimana keadaan si semut merah? Dia menyesal telah melepaskan su semut hitam. Dia menyesal melepaskan semut hitam pendiam yang tulus pada semut merah yang malang"
Setelah mengakhiri ucapannua aswin berjalan menjauh. Dia pergi. Meninggalkanku sendirian dengan kopi panas darinya. Kugenggam kopi panas ini dengan menahan tangisku.
"Apa si semut merah itu dirimu? Apa kau menyesal melepaskanku?"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar