Rintik-rintik air hujan membasahi bumi pagi ini. Benda-benda kering menjadi basah. Bau tanah yang terguyur hujan begitu menyegarkan. Memiliki aroma yang berbeda.
Ceri masih bergelung di tempat tidurnya. Cuaca yang mendukung untuk tetap di tempat tidur. Tapi, jadwal kuliahnya tidak sependapat dengan cuaca pagi ini.
"Cer, buruan turun makan! Mama gak bakal izinin kamu berangkat kalo belum sarapan. Kamu dengar kan cer?" teriak mama ceri dari arah dapur sepertinya. Ceri hanya mengendikkan bahu dan berjalan gontai ke kamar mandi.
Ceri tidak ingin mencari masalah dengan mamanya hari ini. Ceri duduk di meja makan dan memakan sarapannya. Ceri menghabiskan menu makanan di piringnya hingga tak tersisa.
'Tsk, masih hujan! Kalau pakai motor ribet, panggil taxi aja deh' batin ceri saat melihat ke luar rumah.
15.00 sore.
Ceri berjalan keluar area kampus. Jam kuliahnya baru saja selesai. Ceri akan minta jemput rian, adik ceri untuk menjemputnya di kampus. Ceri mencari ponselnya di dalam tas.
"Ah, dapat!" celetuk ceri.
"Cer, gak bawa motor ya?" seorang pria menghampiri ceri.
"Oh eric. Tadi pagi hujan jadi pakai taxi deh" jawab ceri saat mengetahui yang menghampirinya adalah temannya, eric.
"Jadi pulangnya?"
"Ini mau nelfon adik aku dulu" ceri menggoyangkan hpnya di depan eric.
"Bareng aku aja gimana? Lagi gak buru-buru kok" eric menyerahkan helm berwarna putih untuk ceri.
"Eh, emang searah?" ceri menerima helm eric dan memakainya.
"Udah gampang deh. Buruan naik cer" eric memutar kunci motornya dan menyalakan mesin motornya. Diikuti ceri yang duduk di belakang eric.
Halaman rumah Ceri.
"Jadi mau mampir dulu gak?" tawar ceri.
"Lain kali deh cer, sekarang aku pamit aja. Salam buat mama papa aja deh" eric kembali menyalakan mesin motornya.
"Gitu? Tapi makasih ya ric udah dianterin, bikin repot aja"
"Jangan sungkan cer, kali aja ntar aku bisa sering-sering main kesini, haha" eric tertawa. Sedangkan ceri yang tidak mengerti maksud eric mengernyitkan dahinya.
"Yaudah cer, pulang dulu ya?" ceri menganggukkan kepalanya sebagai jawaban pamitnya eric.
Saat eric sudah tidak terlihat, ceri masuk ke dalam rumah. Ada adiknya yang sedang menelfon seseorang. Adiknya sesekali tersenyum, tertawa, bahkan menggoda. Dan ceri tau kalau yang ditelfon adiknya pasti pacar adiknya.
'Anak SMA sekarang, bukannya belajar malah asik pacaran' gumam ceri melihat kelakuan adiknya.
Ceri masuk ke dalam kamarnya. Baru saja dia akan menutup pintu kamarnya hujan turun sangat deras. Ceri berlari kecil ke arah jendela.
'Eric kehujanan gak ya?' pikiran ceri melayang membayangkan eric kehujanan.
'Emm. Sms gak ya?' ceri menggenggam hpnya.
'Sms apa telfon ya?' ceri masih ragu-ragu.
'Drrrtttt... Drrrrtttt' hp ceri bergetar. Satu panggilan masuk, dari eric. Ceri segera menggeser layar hpnya menekan tombol hijau.
"Halo.. Eric?"
"Eh cer, aku di pos depan gang rumahmu. Gabawa jas hujan, jadi..."
"Tunggu aku disitu! Jangan kemana-mana"
'Bip' ceri memutuskan sambungan telfon sebelum eric berbicara. Ceri segera berlari mengambil payung dan berjalan ke tempat eric berada.
Eric duduk di sebuah bangku panjang. Eric melihat seseorang perempuan dengan pakaian sama yang dipakainya saat eric mengantarnya. Perempuan itu berjalan ke arah eric dengan sedikit tergesa-gesa. Terlihat dari langkah kakinya yang cepat. Perempuan itu menggenggam payung berwarna kuning. Eric melihatnya begitu intens sampai tidak sadar bahwa ceri sudah di depannya sekarang.
"Huh, kukira kamu bakalan pergi" ceri menutup payungnya ikut duduk disamping eric.
"Kamu cuma bawa payung aja?" tanya eric.
"Eh iya. Kenapa?" ceri mengernyitkan dahinya. Eric yang mendengar jawaban ceri hanya tersenyum dan mengacak rambut ceri gemas.
"Lepek ric kena hujan, Jangan pegang" ceri memindahkan tangan eric dari atas kepalanya.
"Kalau gitu kita tunggu hujannya reda disini bareng deh ya kalo gitu? Padahal tadi di telfon mau pinjam jas hujan" eric menatap lurus ke arah hujan yang masih lumayan deras. Ceri yang mendengar ucapan eric langsung menepuk dahinya. Ceri baru menyadari kebodohannya. Untuk apa dia terburu-buru menemui eric, kalaupun yang dibutuhkan eric lupa dia bawa.
"Biar aku suruh adikku bawa kesini deh" ceri merogoh semua sakunya dan dia kembali menepuk dahinya setelah ingat dia melemparkan hpnya begitu saja setelah mematikan telfon. Eric yang melihat tingkah lucu ceri hanya tersenyum. Eric Kini tau betapa cerobohnya ceri. Eric mengira selama ini ceri adalah perempuan yang dewasa tapi dia salah, ceri sangat ceroboh. Eric mengulurkan kedua tangannya, lalu memeluk ceri.
"Ssttt... Bisa tenang gak? Sepertinya hujan memang berencana menjebak kita berdua" ---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar